Keluarga Besar Al Yamani

Senin, 06 Desember 2010


Kedatangan tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri. Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.

Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah “tapa mbisu mubeng beteng”.

Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro.

Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri. Dan bukankah introspeksi tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro. (image: tembi.or.id)


http://www.forumbebas.com/images/FBI/line.png

mlm 1 suro


Malam Satu Suro
Belajar menelusuri sejarah, tradisi dan budaya yang masih melekat erat di kalangan rakyat Ngayogyokarto Hadiningrat. Sembari jalan-jalan menelusuri Yogyakarta di waktu malam, malam satu Suro, menjadi momen yang tepat. Malam satu Suro, bagi sebagian orang jawa dikaitkan dengan hal-hal mistis dan berfilosofis. Sebenarnya, diluar liputan, ada banyak latar belakang historis peristiwa penting yang terjadi di bulan Suro, khususnya penganut agama Islam, yang tentu saja berafiliasi dengan kebudayaan Mataram Jawa-Hindu.
Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khathab, seorang khalifah Islam di jaman setelah Nabi Muhammad wafat. Awal dari afiliasi ini, konon untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa. Maka tahun 931 H atau 1443 tahun Jawa baru, yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hirjiyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu.
Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin “menyatukan Pulau Jawa.” Oleh karena itu, dia ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi disebabkan keyakinan agama. Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan. Pada setiap hari Jumat legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri. Akibatnya, 1 Muharram (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat legi ikut-ikut dikeramatkan pula, bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut diluar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul. Lebih detail tentang riwayat malam Satu Suro bisa dibaca disini.
Tradisi Jawa
Malam hari, tanggal 19 Januari 2007, banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya, Sabtu Pahing, dengan caranya sendiri-sendiri. Tidak sedikit, untuk dapat dikatakan demikian, warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng, hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. Dengan Tapa Bisu, atau mengunci mulut, tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya. Kungkum atau berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta, yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi, adalah Tirakatan dan Pagelaran Wayang Kulit. Begitu pula di Pantai Parangkusumo, kawasan Parangtritis, Kretek, Bantul Yogyakarta.
Pantai Parangkusumo
Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta, Kawasan pantai Parangtrisits, khususnya Parangkusumo, memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro. Labuhan, menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro. Namun, perkiraan saya salah. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar.
Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo, menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. Meski begitu, pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang, makanan, dan berbagai jasa lainnya. Tukang obat tradisional, pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan- “wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung.
Wayang Kulit Semalam Suntuk
Tradisi dan warisan budaya jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting, khususnya adat, di Yogyakarta. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya.
Wayang Kulit
Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu.
Cepuri Parangkusumo
Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul, yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk.
tempat aiarah dua batu yang 
dikeramtkan
Kembang, dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini. Apalagi di malam satu Suro, tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini, ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung.

malam 1 suro

ASAL USUL

Loncatan ` Sejarah

MohamaSobary

Banyak momentum tanggal satu Suro, tahun baru Jawa, telah kita lewati.
Pengalaman setiap orang, setiap kelompok, di setiap kota, berbeda. Di Yogya, kota keraton, corak peringatan itu sangat spiritualistik dan sakral. Parang Kusumo, di Pantai Parang Tritis, masih dianggap pusat ritus missal hingga hari ini.
Maka orang pun mengalir dari utara, dari kota, sejak sore hari dan berpuncak pada tengah malam, ke Pantai Selatan. Di masa kanak-kanak dulu saya selalu mengikuti acara itu dengan khusyuk, tapi penuh tanda tanya akan apa gunanya, sambil diam-diam membangun imajinasi, dan bayangan tentang hal-hal besar dan hebat, khas dunia khayal seorang bocah.
Orang menanti momen sakral, tengah malam, saat tahun berganti, sambil berharap di malam itu ia memperoleh sesuatu yang gaib, yang memberi kekuatan, dan daya tahan lebih besar untuk meneruskan hidup dan memanggul darma hidupnya sebagai manusia, dengan enak, dan ringan, tanpa keluhan tanpa beban.

Hidup hendaklah bergulir alamiah bagaikan air mengalir dari puncak gunung, dan memberi makna bagi orang lain. Dan saya pun, di usia di bawah sepuluh tahun, sudah keranjingan nonton wayang kulit, bagian dari ritus missal itu, semalam suntuk.

Di malam tahun baru kali ini, saya nonton wayang di Kebagusan, yang meriah, dengan dalang modern. Tapi sehabis tengah malam saya pindah ke Bulungan, nonton Ki Timbul, yang serius memelihara pakem, menyampaikan inti pesan dan ajaran tentang makna tahun baru itu bagi kita.

Malam itu saya pun ingat akan Pleret, pusat keraton Mataram di masa itu, ketika Sultan Agung, raja ketiga, yang berkuasa antara tahun 1613-1645 merumuskan gagasan menyatukan satu Suro dan satu Muharam sebagai tahun baru Jawa sekaligus tahun baru Islam.

Penyatuan ini merupakan rekayasa kebudayaan demi mensinkronisasikan ruh kebudayaan Jawa, dan ruh ajaran Islam. Bagi beliau, Jawa dan Islam bukan dua entitas budaya yang harus dipertentangkan. Jawa harus ramah dan akomodatif terhadap Islam, yang saat itu relatif masih baru. Dan sebaliknya, Islam hendaklah tampil bukan dalam kulit Arabnya, dan keketatan aturan fikihnya, melainkan dalam format kultur Jawa yang enak, dan menawarkan kedalaman. Maka, suburlah kehidupan sufisme, yang lebih bicara isi daripada kulit: sesuatu yang pas bagi cita rasa Jawa.

Usaha membikin Jawa dan Islam menyatu, sudah ditempuh para wali, terutama, mungkin, Sunan Kalijaga, yang meniru strategi Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang di dalam periode Mekkah, lebih menekankan dimensi iman dan ketaukhidan daripada dimensi hukum dan segenap aturan hidup kemasyarakatan.

Sejak semula, Islam Jawa itu Islam dalam substansi keimanan, dan kedalaman penghayatan mengenai bagaimana Tuhan hadir dalam hidup ini dan bagaimana "kawula-Gusti" dapat menunggal, menyatu dalam sifat dan dalam karsa. Tujuannya agar manusia dapat hidup dengan dimensi ke-Tuhan-an, menjadi manusia paripurna, insan kamil, yang baik, jujur, murah hati dan bersahabat dengan sesamanya, dan sebanyak mungkin menyerap "warna" Tuhan—bukan "warna" setan-iblis—dalam dirinya dan dalam segenap tampilan sikapnya.

Kemudian di Jakarta, sejak dekade 1980-an, saya pun ikut memahami "doktrin" politik-kebudayaan, mengenai indonesianisasi Islam, kontekstualisasi Islam atau pribumisasi Islam dari Gus Dur, Cak Nur (alm) dan Pak Munawir, dan sejumlah tokoh penting, yang gigih mencarikan akomodasi yang secara politik aman dan secara kultural nyaman bagi Islam di masyarakat Indonesia.

Tapi sebaliknya, mereka pun memikirkan peluang membikin Islam yang ramah terhadap lingkungan "baru"-nya, yang tak eksklusif, dan tak memaksakan kebenarannya terhadap para pemegang kebenaran ajaran lain, yang juga berhak hidup, dan berkembang karena mereka pun memperoleh jaminan politik dan kebudayaan yang demokratis dan egaliter.

Sultan Agung memberi kita warisan budaya penting. Di zaman itu beliau sudah bicara pribumisasi Islam, jawanisasi Islam (karena Indonesia belum ada), dan kontekstualisasi Islam. Ini sebuah loncatan cara berpikir yang beberapa abad mendahului zamannya. Beliau mendahului kita, yang hidup di abad dua puluh satu ini.
Maka, ketika pagi itu pula, di sebuah studio televisi, saya ditanya Ralph Tampubolon dan Frida Lidwing, tentang spiritualitas apa yang dapat kita petik dari tahun baru Islam dan Jawa ini, saya menjawab, bahwa kita harus bisa membuat suatu loncatan sejarah.
Dulu Sultan Agung pasti menghadapi ketegangan antara Jawa dan Islam, yang mungkin saling menolak. Maka keluarlah "doktrin" politik-kebudayaan tadi. Kini, kita hidup di zaman omong besar, dan di Jakarta, omong besar itu tak membuat kita maju.
Kita harus melawan semangat zaman yang buruk ini, dengan kerja nyata. Kita ambil langkah-langkah kecil, dan lokal, dengan dukungan kebudayaan lokal, semampunya, dengan keyakinan, langkah kecil ini, dari tahun ke tahun, akan menjadi langkah besar.

mlm 1 suro

Kamis, 18 November 2010

ibnu thufail



IBNU THUFAIL

I. PENDAHULUAN
Ibnu Thufai adalah salah satu filsuf yang terpikat oleh pemikiran-pemikiran Yunani dan berusaha menyelaraskan dengan ajaran Islam. Karya monumental yang berjudul Hayy Bin Yaqzhan membuktikan hal itu. Tulisan ini sendiri berposisi untuk mengungkapkan jejak-jejak Hellenisme dalam pikiran Ibnu Thufai dalam konteks upaya penyelarasannya dengan ajaran Islam. [1]Oleh karena itu, makalah dibawah ini, akan menjelasakan tentang
pandangan Ibnu Thufai.
II. Riwayat Hidup Ibnu Thufail
Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Abd al- Malik Ibnu Muhammad Ibnu Thufail (latin, Abubacer) pemuka besar pertama pemikiran filosofis Muwahhid dari Spanyol. Ia dilahirkan di Guadix, provinsi Granada, ia termauk dalam keluarga suku arab terkemuka Qais. Dalam bahasa latin ia lebih populer dengan sebutan Abu Bacer. Ibnu Thufail meninggal di Maroko pada tahun 581 H/1185 M.
Ibnu Thufail memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang (all round). Selain sebagai seorang filosof, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, matematika, astonomi dan penyair yang sangat terkenal dari dinasti Al-Muwahhid spanyol. Ia mulai karirnya menjadi dokter praktek di Granada. Lewat ketenarannya sebagai dokter, ia di angkat menjadi sekretaris Gubernur di Provinsi itu, kemudian ia diangkat menjadi sekretaris pribadi Gubernur Geuta dan Tanqier oleh putra al-Mu’min (penguasa al-Muwaddin Spanyol), setelah itu ia diangkat menjadi dokter pemerintahan dan sekaligus menjadi Qodhi’[2].
Ibnu Thufail adalah seorang dokter, filsuf, ahli matematika dan penyair yang sangat terkenal dari Muwaddin Spanyol, tapi sayangnya hanya sedikit sekali karya-karyanya yag dikenal orang.
Miguel Casiri (1122 H/1710 M-1205 H/1790 M) menyebutkan dua karya yang masih ada, yaitu: Risalah hay Ibn Yaqzhan dan Asrar al-Hikmah al- Mashriqiyyah, yang disebu terakhir ini berbentuk naskah. Kata pengantar dari Asror menyebutkan bahwa itu hanya merupakan satu bagian dari risalah Hayy Ibn Yaqzhan fi Asror al-Hikmah al-Mashriqiyyah.[3]
Kata Ibnu Thufail ini merupakan suatu kreasi yang unik dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya, judul ini telah diberikan oleh Ibn Sina kepada salah satu karya esoteriknya, tapi Ibnu Thufail berhasil menjadikan kisah ini menjadi kisah roman filosofis yang unik. Ketajaman filosofisnya yang menandai kebenaran kisah ini dan ia menjadikannya salah satu kisah yang paling asli dan paling indah pada abad pertengahan. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini diterjemahkan kedalam bahasa ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol. Bahkan pada zaman modern pun minat terhadap karya Ibnu Thufail ini tetap ada.[4]
III. Karya Filsafat Ibnu Thufail
 Sekilas Tentang Hayy Bin Haqzhan
Roman ini diawali dengan kisah seorang bayi yang dihanyutkan ibunya (dalam versi lain, ia terlahir secara spontan karena keseimbangan unsure-unsur tanah) dan diasuh oleh seekor rusa betina disebuah pulau yang tidak berpenghuni, dibawah asuhan rusa tersebut, sibayi tumbuh layaknya anak manusia kebanyakan, baik fisik maupun psikisnya. Dalam menggunakan rasionya, ia mampu menangkap konsep-konsep filosofis sampai akhirnya ia mencapai puncak pengalaman sekstase mistik.
setelah melakukan observasi terhadap jasad rusa yang telah mati tersebut. Ia menemukan “sesuatu” yang menguasai tubuh, yaitu ruh hayawaniah. Tersusun dari pengertian jismiah dan makna tambahan lain. Pengertian jismiah ini dimiliki oleh semua benda, sedang makna tambahan ini dimiliki oleh kekhasan oleh masing-masing benda. Dari sinilah Hayy menemukan an-Nafs (jiwa). Dalam konteks filsafat aristotelianisme, jiwa adalah Form sedang ruh adalah matter.5 Berarti lewat tulisannya ini Ibnu Thufail mendukung teori evolusis.

IV. Pemikiran Ibnu Thufail
1. Metafisika (ketuhanan)
Tuhan menurut Ibnu Thufail adalah pemberi wujud pada semua makhluk. Untuk membuktikan adanya Tuhan Ibnu Thufail mengemukakan tiga argument, yaitu:
a) Argumen Gerak (al-Harokat).
Gerak ala mini menjadi bukti tentang adanya Allah, baik bagi orang yang menyakini alam baharu (hadist), berarti ala mini sebelumnya tidak ada, kemudian menjai ada. Oleh karena itu berarti ada penciptanya. Pencipta inilah yang menggerakkan alam dari tidak ada menjadi ada yang disebut dengan Allah. Tapi bagi orang yang menyakini alam kadim, alam ini tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada, gerak ala mini kadim, tidak berawal dan tidak berakhir, karena zaman tidak mendahuluinya (tidak didahului oleh diam) adanya gerak ini menunjukkan secara pasti adanya penggerak.
b) Argumen Materi (al-Madat)
Argument ini, menurut Ibnu Thufail dapat membuktikan adanya Allah, baik yang menyakini alam kadim maupun hadistnya. Dalam hal ini Ibnu Thufail mengemukakan pokok pikirannya yang terkait antara satu dengan yang lainnya, yaitu:
1) Segala yang ada ini tersusun dai materi dan  benuk;
2)  Setiap materi membutuhkan bentuk;
3) Bentuk tidak mungkin bereksistensi penggerak;
4) Segala yang ada (maujud) untuk berseksistens
Dengan argumen diatas dapat dibuktikan adanya Allah sebagai pencipta alami ni, Ia Maha Kuasa, bebas memilih serta tidak berawal dan tidak berakhir[5]
c) Argumen al-Gayyat dan al-Mayyat.
Pada argumen ini pernah dikemukakan oleh al-kindi dan Ibn Sina, bahwa segala yang ada di ala mini mempunyai tujuan tertentu dan merupakan inayah dari Allah.
2. Fisika
Menurut Ibnu Thufail alam ini kadim dan juga baharu. Alam kadim karena Allah menciptakannya sejak azali, tanpa didahului oleh zaman (taqaddum zamany), dilihat dari esensinya alam adalah baharu karena terwujudnya alam (ma’lul) bergantung pada zat Allah (illat).
Pandangan menurut Ibnu Thufail ini merupakan kompromi antara pendapat Aristoteles yang menyatakan alam kadim dengan ajaran kaum ortodok Islam yang meyatakan alam baharu.


3. Jiwa  
Menurut Ibnu Thufail jiwa manusia adalah makhluk yang tertinggi martabanya. Menusia terdiri dari dua unsur , yakni jasad dan ruh (al-Madad wa al-Ruh). Badan tersusun dari unsur-unsur, sedangkan jiwa tidak tersusun. Jiwa bukan jisim dan juga bukan sesuatu daya yang ada didalam jiwa. Setelah badan hancur (mengalami kematian) jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama dalam jasad akan hidup dan kekal.
Menurut Ibnu Thufail jiwa terdiri dari tiga tingkat, yakni dari yang rendah jiwa tumbuhan (al-Nafs al-Hayawaniyyah), kemudian tingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi dari keduanya, yaitu jiwa manusia (al-Nafs al- natiqat).
4. Epistimologi
Dalam epistimologi, Ibnu Thufail menjelaskan bahwa ma’rifat itu dimulai dari panca indra. Dengan pengamatan dan pengalaman dapat diperoleh pengetahuan indrawi, hal-hal yang bersifat metafisis dapat diketahui dengan akal dan intuisi. Menurutnya ma’rifat di lakukan denga dua cara, yaitu:
a) Pemikiran/renungan akal, seperti yang dilakukan para filsuf muslim;
b) Kasyf ruhani (tasawwuf), seperti yang biasa dilakukan oleh kamu sufi. Ma’rifat kasyf ruhani ini dapat diperoleh dengan latihan-latihan ruhani dengan penuh kesungguhan.
5. Rekonsiliasi (Tawfiq) antara filsafat dan agama.
Melalui roman filsafat hayy ibn Yaqzhan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain, akal tidak bertentangan dengan wahyu, tetapi juga dapat diketahui dengan akal. Dalam hal ini, Ibnu Thufail berusaha dengan penuh kesungguhan untuk merekonsiliasikan antara filsafat dan agama. Hayy dalam roman filsafatnya, ia lambangkan sebagai akal yang dapat berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan absal, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk esoteris, yang membawa hakikat (kebenaran). Sementara salman, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk eksoteris. Kebenaran yang dikehendaki agama, karena sumbernya sama, yakni Allah SWT.[6]



V. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ibnu Thufail adalah seorang Filosof yang memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang, tetapi idak banyak mempunyai karya-karya seperti filosof lainnya, hanya sedikit karya-karyanya yang dikenal oleh orang. Kemudian pemikiran yang dihasilkan oleh Ibnu Thufail, yaitu: metafisika, Fisika, Jiwa, Epistimologi dan Rekonsiliasi antara filsafat dan agama









IBNU THUFAIL

I. PENDAHULUAN
Ibnu Thufai adalah salah satu filsuf yang terpikat oleh pemikiran-pemikiran Yunani dan berusaha menyelaraskan dengan ajaran Islam. Karya monumental yang berjudul Hayy Bin Yaqzhan membuktikan hal itu. Tulisan ini sendiri berposisi untuk mengungkapkan jejak-jejak Hellenisme dalam pikiran Ibnu Thufai dalam konteks upaya penyelarasannya dengan ajaran Islam. [1]Oleh karena itu, makalah dibawah ini, akan menjelasakan tentang
pandangan Ibnu Thufai.
II. Riwayat Hidup Ibnu Thufail
Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Abd al- Malik Ibnu Muhammad Ibnu Thufail (latin, Abubacer) pemuka besar pertama pemikiran filosofis Muwahhid dari Spanyol. Ia dilahirkan di Guadix, provinsi Granada, ia termauk dalam keluarga suku arab terkemuka Qais. Dalam bahasa latin ia lebih populer dengan sebutan Abu Bacer. Ibnu Thufail meninggal di Maroko pada tahun 581 H/1185 M.
Ibnu Thufail memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang (all round). Selain sebagai seorang filosof, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, matematika, astonomi dan penyair yang sangat terkenal dari dinasti Al-Muwahhid spanyol. Ia mulai karirnya menjadi dokter praktek di Granada. Lewat ketenarannya sebagai dokter, ia di angkat menjadi sekretaris Gubernur di Provinsi itu, kemudian ia diangkat menjadi sekretaris pribadi Gubernur Geuta dan Tanqier oleh putra al-Mu’min (penguasa al-Muwaddin Spanyol), setelah itu ia diangkat menjadi dokter pemerintahan dan sekaligus menjadi Qodhi’[2].
Ibnu Thufail adalah seorang dokter, filsuf, ahli matematika dan penyair yang sangat terkenal dari Muwaddin Spanyol, tapi sayangnya hanya sedikit sekali karya-karyanya yag dikenal orang.
Miguel Casiri (1122 H/1710 M-1205 H/1790 M) menyebutkan dua karya yang masih ada, yaitu: Risalah hay Ibn Yaqzhan dan Asrar al-Hikmah al- Mashriqiyyah, yang disebu terakhir ini berbentuk naskah. Kata pengantar dari Asror menyebutkan bahwa itu hanya merupakan satu bagian dari risalah Hayy Ibn Yaqzhan fi Asror al-Hikmah al-Mashriqiyyah.[3]
Kata Ibnu Thufail ini merupakan suatu kreasi yang unik dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya, judul ini telah diberikan oleh Ibn Sina kepada salah satu karya esoteriknya, tapi Ibnu Thufail berhasil menjadikan kisah ini menjadi kisah roman filosofis yang unik. Ketajaman filosofisnya yang menandai kebenaran kisah ini dan ia menjadikannya salah satu kisah yang paling asli dan paling indah pada abad pertengahan. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini diterjemahkan kedalam bahasa ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol. Bahkan pada zaman modern pun minat terhadap karya Ibnu Thufail ini tetap ada.[4]
III. Karya Filsafat Ibnu Thufail
 Sekilas Tentang Hayy Bin Haqzhan
Roman ini diawali dengan kisah seorang bayi yang dihanyutkan ibunya (dalam versi lain, ia terlahir secara spontan karena keseimbangan unsure-unsur tanah) dan diasuh oleh seekor rusa betina disebuah pulau yang tidak berpenghuni, dibawah asuhan rusa tersebut, sibayi tumbuh layaknya anak manusia kebanyakan, baik fisik maupun psikisnya. Dalam menggunakan rasionya, ia mampu menangkap konsep-konsep filosofis sampai akhirnya ia mencapai puncak pengalaman sekstase mistik.
setelah melakukan observasi terhadap jasad rusa yang telah mati tersebut. Ia menemukan “sesuatu” yang menguasai tubuh, yaitu ruh hayawaniah. Tersusun dari pengertian jismiah dan makna tambahan lain. Pengertian jismiah ini dimiliki oleh semua benda, sedang makna tambahan ini dimiliki oleh kekhasan oleh masing-masing benda. Dari sinilah Hayy menemukan an-Nafs (jiwa). Dalam konteks filsafat aristotelianisme, jiwa adalah Form sedang ruh adalah matter.5 Berarti lewat tulisannya ini Ibnu Thufail mendukung teori evolusis.

IV. Pemikiran Ibnu Thufail
1. Metafisika (ketuhanan)
Tuhan menurut Ibnu Thufail adalah pemberi wujud pada semua makhluk. Untuk membuktikan adanya Tuhan Ibnu Thufail mengemukakan tiga argument, yaitu:
a) Argumen Gerak (al-Harokat).
Gerak ala mini menjadi bukti tentang adanya Allah, baik bagi orang yang menyakini alam baharu (hadist), berarti ala mini sebelumnya tidak ada, kemudian menjai ada. Oleh karena itu berarti ada penciptanya. Pencipta inilah yang menggerakkan alam dari tidak ada menjadi ada yang disebut dengan Allah. Tapi bagi orang yang menyakini alam kadim, alam ini tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada, gerak ala mini kadim, tidak berawal dan tidak berakhir, karena zaman tidak mendahuluinya (tidak didahului oleh diam) adanya gerak ini menunjukkan secara pasti adanya penggerak.
b) Argumen Materi (al-Madat)
Argument ini, menurut Ibnu Thufail dapat membuktikan adanya Allah, baik yang menyakini alam kadim maupun hadistnya. Dalam hal ini Ibnu Thufail mengemukakan pokok pikirannya yang terkait antara satu dengan yang lainnya, yaitu:
1) Segala yang ada ini tersusun dai materi dan  benuk;
2)  Setiap materi membutuhkan bentuk;
3) Bentuk tidak mungkin bereksistensi penggerak;
4) Segala yang ada (maujud) untuk berseksistens
Dengan argumen diatas dapat dibuktikan adanya Allah sebagai pencipta alami ni, Ia Maha Kuasa, bebas memilih serta tidak berawal dan tidak berakhir[5]
c) Argumen al-Gayyat dan al-Mayyat.
Pada argumen ini pernah dikemukakan oleh al-kindi dan Ibn Sina, bahwa segala yang ada di ala mini mempunyai tujuan tertentu dan merupakan inayah dari Allah.
2. Fisika
Menurut Ibnu Thufail alam ini kadim dan juga baharu. Alam kadim karena Allah menciptakannya sejak azali, tanpa didahului oleh zaman (taqaddum zamany), dilihat dari esensinya alam adalah baharu karena terwujudnya alam (ma’lul) bergantung pada zat Allah (illat).
Pandangan menurut Ibnu Thufail ini merupakan kompromi antara pendapat Aristoteles yang menyatakan alam kadim dengan ajaran kaum ortodok Islam yang meyatakan alam baharu.


3. Jiwa  
Menurut Ibnu Thufail jiwa manusia adalah makhluk yang tertinggi martabanya. Menusia terdiri dari dua unsur , yakni jasad dan ruh (al-Madad wa al-Ruh). Badan tersusun dari unsur-unsur, sedangkan jiwa tidak tersusun. Jiwa bukan jisim dan juga bukan sesuatu daya yang ada didalam jiwa. Setelah badan hancur (mengalami kematian) jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama dalam jasad akan hidup dan kekal.
Menurut Ibnu Thufail jiwa terdiri dari tiga tingkat, yakni dari yang rendah jiwa tumbuhan (al-Nafs al-Hayawaniyyah), kemudian tingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi dari keduanya, yaitu jiwa manusia (al-Nafs al- natiqat).
4. Epistimologi
Dalam epistimologi, Ibnu Thufail menjelaskan bahwa ma’rifat itu dimulai dari panca indra. Dengan pengamatan dan pengalaman dapat diperoleh pengetahuan indrawi, hal-hal yang bersifat metafisis dapat diketahui dengan akal dan intuisi. Menurutnya ma’rifat di lakukan denga dua cara, yaitu:
a) Pemikiran/renungan akal, seperti yang dilakukan para filsuf muslim;
b) Kasyf ruhani (tasawwuf), seperti yang biasa dilakukan oleh kamu sufi. Ma’rifat kasyf ruhani ini dapat diperoleh dengan latihan-latihan ruhani dengan penuh kesungguhan.
5. Rekonsiliasi (Tawfiq) antara filsafat dan agama.
Melalui roman filsafat hayy ibn Yaqzhan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain, akal tidak bertentangan dengan wahyu, tetapi juga dapat diketahui dengan akal. Dalam hal ini, Ibnu Thufail berusaha dengan penuh kesungguhan untuk merekonsiliasikan antara filsafat dan agama. Hayy dalam roman filsafatnya, ia lambangkan sebagai akal yang dapat berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan absal, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk esoteris, yang membawa hakikat (kebenaran). Sementara salman, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk eksoteris. Kebenaran yang dikehendaki agama, karena sumbernya sama, yakni Allah SWT.[6]



V. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ibnu Thufail adalah seorang Filosof yang memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang, tetapi idak banyak mempunyai karya-karya seperti filosof lainnya, hanya sedikit karya-karyanya yang dikenal oleh orang. Kemudian pemikiran yang dihasilkan oleh Ibnu Thufail, yaitu: metafisika, Fisika, Jiwa, Epistimologi dan Rekonsiliasi antara filsafat dan agama


























AFTAR PUSTAKA
Ahmad Zainal Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Yoyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.
Prof. Dr. H. Sirajjuddin, MA. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Yogyakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2007.
M.M. Syarif, MA. “The Philosophers”, dari buku History of Muslim Philoshophy,
Bandung: Mizan, cet. I, 1985



























IBNU THUFAIL
MAK ALA H
Tugas ini disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah
: Filsafat Islam
Dosen Pengampu :



http://htmlimg1.scribdassets.com/6jf0b7u14wma764/images/1-801381a216/000.jpg
Disusun oleh:
Ahmad asrori( 091111002)








FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  WALISONGO
SEMARANG
2010



[1] Ahmad Zainal Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Yoyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.  
[2] Prof. Dr. H. Sirajjuddin, MA. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Yogyakarta: PT. Raja
. Karya-karya Ibnu Thufai

[3] 3 M.M. Syarif, MA. “The Philosophers”, dari buku History of Muslim Philoshophy, Bandung: Mizan, cet. I, 1985, hlm. 174-175.
[4] Op.cit. hlm. 206-207.
[5] Op.cit. hlm. 168-169

[6] Op.cit, hlm. 212-219



















AFTAR PUSTAKA
Ahmad Zainal Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Yoyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.
Prof. Dr. H. Sirajjuddin, MA. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Yogyakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2007.
M.M. Syarif, MA. “The Philosophers”, dari buku History of Muslim Philoshophy,
Bandung: Mizan, cet. I, 1985



























IBNU THUFAIL
MAK ALA H
Tugas ini disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah
: Filsafat Islam
Dosen Pengampu :



http://htmlimg1.scribdassets.com/6jf0b7u14wma764/images/1-801381a216/000.jpg
Disusun oleh:
Ahmad asrori( 091111002)








FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  WALISONGO
SEMARANG
2010



[1] Ahmad Zainal Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Yoyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.  
[2] Prof. Dr. H. Sirajjuddin, MA. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Yogyakarta: PT. Raja
. Karya-karya Ibnu Thufai

[3] 3 M.M. Syarif, MA. “The Philosophers”, dari buku History of Muslim Philoshophy, Bandung: Mizan, cet. I, 1985, hlm. 174-175.
[4] Op.cit. hlm. 206-207.
[5] Op.cit. hlm. 168-169

[6] Op.cit, hlm. 212-219