Keluarga Besar Al Yamani

Senin, 06 Desember 2010

malam 1 suro

ASAL USUL

Loncatan ` Sejarah

MohamaSobary

Banyak momentum tanggal satu Suro, tahun baru Jawa, telah kita lewati.
Pengalaman setiap orang, setiap kelompok, di setiap kota, berbeda. Di Yogya, kota keraton, corak peringatan itu sangat spiritualistik dan sakral. Parang Kusumo, di Pantai Parang Tritis, masih dianggap pusat ritus missal hingga hari ini.
Maka orang pun mengalir dari utara, dari kota, sejak sore hari dan berpuncak pada tengah malam, ke Pantai Selatan. Di masa kanak-kanak dulu saya selalu mengikuti acara itu dengan khusyuk, tapi penuh tanda tanya akan apa gunanya, sambil diam-diam membangun imajinasi, dan bayangan tentang hal-hal besar dan hebat, khas dunia khayal seorang bocah.
Orang menanti momen sakral, tengah malam, saat tahun berganti, sambil berharap di malam itu ia memperoleh sesuatu yang gaib, yang memberi kekuatan, dan daya tahan lebih besar untuk meneruskan hidup dan memanggul darma hidupnya sebagai manusia, dengan enak, dan ringan, tanpa keluhan tanpa beban.

Hidup hendaklah bergulir alamiah bagaikan air mengalir dari puncak gunung, dan memberi makna bagi orang lain. Dan saya pun, di usia di bawah sepuluh tahun, sudah keranjingan nonton wayang kulit, bagian dari ritus missal itu, semalam suntuk.

Di malam tahun baru kali ini, saya nonton wayang di Kebagusan, yang meriah, dengan dalang modern. Tapi sehabis tengah malam saya pindah ke Bulungan, nonton Ki Timbul, yang serius memelihara pakem, menyampaikan inti pesan dan ajaran tentang makna tahun baru itu bagi kita.

Malam itu saya pun ingat akan Pleret, pusat keraton Mataram di masa itu, ketika Sultan Agung, raja ketiga, yang berkuasa antara tahun 1613-1645 merumuskan gagasan menyatukan satu Suro dan satu Muharam sebagai tahun baru Jawa sekaligus tahun baru Islam.

Penyatuan ini merupakan rekayasa kebudayaan demi mensinkronisasikan ruh kebudayaan Jawa, dan ruh ajaran Islam. Bagi beliau, Jawa dan Islam bukan dua entitas budaya yang harus dipertentangkan. Jawa harus ramah dan akomodatif terhadap Islam, yang saat itu relatif masih baru. Dan sebaliknya, Islam hendaklah tampil bukan dalam kulit Arabnya, dan keketatan aturan fikihnya, melainkan dalam format kultur Jawa yang enak, dan menawarkan kedalaman. Maka, suburlah kehidupan sufisme, yang lebih bicara isi daripada kulit: sesuatu yang pas bagi cita rasa Jawa.

Usaha membikin Jawa dan Islam menyatu, sudah ditempuh para wali, terutama, mungkin, Sunan Kalijaga, yang meniru strategi Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang di dalam periode Mekkah, lebih menekankan dimensi iman dan ketaukhidan daripada dimensi hukum dan segenap aturan hidup kemasyarakatan.

Sejak semula, Islam Jawa itu Islam dalam substansi keimanan, dan kedalaman penghayatan mengenai bagaimana Tuhan hadir dalam hidup ini dan bagaimana "kawula-Gusti" dapat menunggal, menyatu dalam sifat dan dalam karsa. Tujuannya agar manusia dapat hidup dengan dimensi ke-Tuhan-an, menjadi manusia paripurna, insan kamil, yang baik, jujur, murah hati dan bersahabat dengan sesamanya, dan sebanyak mungkin menyerap "warna" Tuhan—bukan "warna" setan-iblis—dalam dirinya dan dalam segenap tampilan sikapnya.

Kemudian di Jakarta, sejak dekade 1980-an, saya pun ikut memahami "doktrin" politik-kebudayaan, mengenai indonesianisasi Islam, kontekstualisasi Islam atau pribumisasi Islam dari Gus Dur, Cak Nur (alm) dan Pak Munawir, dan sejumlah tokoh penting, yang gigih mencarikan akomodasi yang secara politik aman dan secara kultural nyaman bagi Islam di masyarakat Indonesia.

Tapi sebaliknya, mereka pun memikirkan peluang membikin Islam yang ramah terhadap lingkungan "baru"-nya, yang tak eksklusif, dan tak memaksakan kebenarannya terhadap para pemegang kebenaran ajaran lain, yang juga berhak hidup, dan berkembang karena mereka pun memperoleh jaminan politik dan kebudayaan yang demokratis dan egaliter.

Sultan Agung memberi kita warisan budaya penting. Di zaman itu beliau sudah bicara pribumisasi Islam, jawanisasi Islam (karena Indonesia belum ada), dan kontekstualisasi Islam. Ini sebuah loncatan cara berpikir yang beberapa abad mendahului zamannya. Beliau mendahului kita, yang hidup di abad dua puluh satu ini.
Maka, ketika pagi itu pula, di sebuah studio televisi, saya ditanya Ralph Tampubolon dan Frida Lidwing, tentang spiritualitas apa yang dapat kita petik dari tahun baru Islam dan Jawa ini, saya menjawab, bahwa kita harus bisa membuat suatu loncatan sejarah.
Dulu Sultan Agung pasti menghadapi ketegangan antara Jawa dan Islam, yang mungkin saling menolak. Maka keluarlah "doktrin" politik-kebudayaan tadi. Kini, kita hidup di zaman omong besar, dan di Jakarta, omong besar itu tak membuat kita maju.
Kita harus melawan semangat zaman yang buruk ini, dengan kerja nyata. Kita ambil langkah-langkah kecil, dan lokal, dengan dukungan kebudayaan lokal, semampunya, dengan keyakinan, langkah kecil ini, dari tahun ke tahun, akan menjadi langkah besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar